Selasa, 22 Mei 2012

PENDIDIKAN ISLAM : Mencetak Generasi Unggul

PENDIDIKAN ISLAM :
Mencetak Generasi Unggul

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Melalui pendidikan sebuah proses perubahan masyarakat dapat dilakukan. Salah satunya dala kemampuannya dalam mencetak sebuah generasi yang akan menentukan perubahan itu sendiri. Namun  jika kita lihat kondisi pendidikan di negeri kita saat ini, sangat jauh dari keberhasilan dalam mencetak para generasi yang akan membawa bangsa ini menuju sebuah perubahan yang baik. Dari sisi SDM misalnya, yang dihasilkan oleh pendidikan kita jauh dari harapan. Saat ini, hampir di seluruh kota-kota besar tawuran antar pelajar terjadi, seks bebas, narkoba, kehidupan hedon dan perilaku rusak lainnya seolah-olah menjadi ‘teman karib’ para pelajar sekarang. Kepribadian mereka kacau; tidak tersentuh sama sekali nilai-nilai Islam. Memang, ada pelajar-pelajar yang berprestasi dan berkepribadian tangguh, namun jumlah mereka tidak sebanyak pelajar yang ‘bermasalah’.
Jika kita berbicara apa penyebab kegagalan pendidikan kita saat ini? Jawaban tidak terlepas dari asas pembentukan pendidikan itu sendiri. Pendidikan kita saat ini berdiri atas asas sekuler-materialis. Lihat saja dari kurikulum pendidikan kita yang hanya menitik beratkan kepada pengejaran akademik saja, tanpa memperhatikan kepribadian generasi itu sendiri. Sehingga hal ini tidak mengherankan, jika banyak lahir generasi kita yang memiliki kepribadian yang buruk.
Berbeda halnya dengan Pendidikan yang berasakan Islam. Pendidikan dalam Islam dipahami sebagai upaya merubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku sesuai dengan nilai Islam. Dari tujuannya pun Islam memiliki tujuan pendidikan yaitu menciptakan SDM berkepribadian Islami. Tujuan pendidikan ini merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni:
Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir ('aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam.
Kedua, menguasai tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu Ilmu yang termasuk fardhu 'ain (kewajiban individual), dan Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif).
Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.
Keempat, memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.
Apabila kita berkaca pada sejarah, dari kebehasilan pendidikan ini, Islam mampu melahirkan para ilmuan-ilmuan yang memiliki sumbangsih besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga sampai saat ini, nama-nama para ilmuan muslim beserta segudang karyanya masih menjadi pembicaraan dan rujukan dalam sejarah ilmu pengetahuan. Sebut saja Al-Biruni (fisika, kedokteran), Jabir bin Hayyan (ilmu kimia), Al-Khawarizmi (pada ilmu matematika), Al-Kindi (filsafat), Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi), Abu Ali Al-Hasan bin Haythami (bidang teknik dan optic), Ibnu Sina yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern, Ibnu Rusyd (bidang filsafat),  Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi).
Sesungguhnya keberhasilan pendidikan Islam tidak bisa lepas dari peran Negara dalam mengelola pendidikan. Peran negara sangat positif dalam menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi politik bisa berubah-ubah, namun sikap para penguasa muslim di masa lalu terhadap peradaban dan ilmu pengetahuan masih jauh lebih positif dibanding penguasa muslim di dunia sekarang ini. Sekolah yang disediakan negara ada di mana-mana dan bisa diakses masyarakat dengan gratis. Sekolah ini mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa dikotomi antara ilmu agama dan teknologi yang bebas nilai.
Negara memberikan pelayanan  pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal.  Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma), termasuk pemberian  gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul maal. Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar  satu dinar (4,25 gram emas).  Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan pemandian  tersedia lengkap di sana.   Begitu pula dengan  Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan  pada abad keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar,  tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan para pelayan serta ruang besar untuk ceramah.  Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu, memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan.
Pendidikan islam beserta prestasinya-prestasinya ini hanya pernah terjadi apabila peraturan Islam diterapkan secara total oleh penguasa. Islam dijadikan asas dalam pembentukan pendidikan ini, serta yang mengatur semua aturan yang ada.
Tentu kita sangat mengharapkan kembalinya kegemilangan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, yang akan melahirkan generasi yang unggul dalam fikr, dzikir dan amal serta berkepribadian Islam. Generasi yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia, maka sebagai konsekuensi logis, kita memerlukan kembali terapnya konsep pendidikan islam serta harapan ini akan terwujud apabila peratuan Islam kembali ditegakkan, serta kita sebagai bagian generasi ini mau turut andil dalam upaya mengembalikan Islam kedalam kancah kehidupan ini. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb




Tidak ada komentar:

Posting Komentar