PENDIDIKAN ISLAM :
Mencetak Generasi Unggul
Pendidikan merupakan
kebutuhan dasar bagi manusia. Melalui pendidikan sebuah proses perubahan
masyarakat dapat dilakukan. Salah satunya dala kemampuannya dalam mencetak
sebuah generasi yang akan menentukan perubahan itu sendiri. Namun jika kita lihat kondisi pendidikan di negeri
kita saat ini, sangat jauh dari keberhasilan dalam mencetak para generasi yang
akan membawa bangsa ini menuju sebuah perubahan yang baik. Dari sisi SDM
misalnya, yang dihasilkan oleh pendidikan kita jauh dari harapan. Saat ini,
hampir di seluruh kota-kota besar tawuran antar pelajar terjadi, seks bebas,
narkoba, kehidupan hedon dan perilaku rusak lainnya seolah-olah menjadi ‘teman
karib’ para pelajar sekarang. Kepribadian mereka kacau; tidak tersentuh sama
sekali nilai-nilai Islam. Memang, ada pelajar-pelajar yang berprestasi dan
berkepribadian tangguh, namun jumlah mereka tidak sebanyak pelajar yang
‘bermasalah’.
Jika kita berbicara apa
penyebab kegagalan pendidikan kita saat ini? Jawaban tidak terlepas dari asas
pembentukan pendidikan itu sendiri. Pendidikan kita saat ini berdiri atas asas
sekuler-materialis. Lihat saja dari kurikulum pendidikan kita yang hanya
menitik beratkan kepada pengejaran akademik saja, tanpa memperhatikan kepribadian
generasi itu sendiri. Sehingga hal ini tidak mengherankan, jika banyak lahir
generasi kita yang memiliki kepribadian yang buruk.
Berbeda halnya dengan
Pendidikan yang berasakan Islam. Pendidikan dalam Islam dipahami sebagai upaya
merubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku sesuai dengan
nilai Islam. Dari tujuannya pun Islam memiliki tujuan pendidikan yaitu
menciptakan SDM berkepribadian Islami. Tujuan pendidikan ini merupakan upaya
sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk
manusia yang berkarakter, yakni:
Pertama,
berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang
Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental,
yaitu pola pikir ('aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang
berpijak pada akidah Islam.
Kedua,
menguasai tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk
menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu
dibagi dalam dua kategori, yaitu Ilmu yang termasuk fardhu 'ain (kewajiban
individual), dan Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif).
Ketiga,
menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam
mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai
khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains
sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat,
seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.
Keempat, memiliki
keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta
latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan
pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan
tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.
Apabila kita berkaca
pada sejarah, dari kebehasilan pendidikan ini, Islam mampu melahirkan para
ilmuan-ilmuan yang memiliki sumbangsih besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Sehingga sampai saat ini, nama-nama para ilmuan muslim beserta
segudang karyanya masih menjadi pembicaraan dan rujukan dalam sejarah ilmu
pengetahuan. Sebut saja Al-Biruni (fisika, kedokteran), Jabir bin Hayyan (ilmu
kimia), Al-Khawarizmi (pada ilmu matematika), Al-Kindi (filsafat), Al-Farazi,
Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi), Abu Ali Al-Hasan bin Haythami (bidang teknik
dan optic), Ibnu Sina yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern, Ibnu
Rusyd (bidang filsafat), Ibnu Khaldun
(sejarah, sosiologi).
Sesungguhnya keberhasilan pendidikan Islam tidak bisa lepas dari peran
Negara dalam mengelola pendidikan. Peran negara sangat positif dalam
menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi
politik bisa berubah-ubah, namun sikap para penguasa muslim di masa lalu
terhadap peradaban dan ilmu pengetahuan masih jauh lebih positif dibanding
penguasa muslim di dunia sekarang ini. Sekolah yang disediakan negara ada di
mana-mana dan bisa diakses masyarakat dengan gratis. Sekolah ini mengajarkan
ilmu pengetahuan tanpa dikotomi antara ilmu agama dan teknologi yang bebas
nilai.
Negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas
biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana)
sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana
pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal.
Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma), termasuk
pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil
dari baitul maal. Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan
Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima
beasiswa sebesar satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian
mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit
dan pemandian tersedia lengkap di sana. Begitu pula
dengan Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad
keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini
terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar,
tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan para pelayan serta ruang
besar untuk ceramah. Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu,
memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah
masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan.
Pendidikan islam
beserta prestasinya-prestasinya ini hanya pernah terjadi apabila peraturan Islam
diterapkan secara total oleh penguasa. Islam dijadikan asas dalam pembentukan
pendidikan ini, serta yang mengatur semua aturan yang ada.
Tentu kita sangat
mengharapkan kembalinya kegemilangan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, yang
akan melahirkan generasi yang unggul dalam fikr, dzikir dan amal serta
berkepribadian Islam. Generasi yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan
peradaban manusia, maka sebagai konsekuensi logis, kita memerlukan kembali
terapnya konsep pendidikan islam serta harapan ini akan terwujud apabila
peratuan Islam kembali ditegakkan, serta kita sebagai bagian generasi ini mau
turut andil dalam upaya mengembalikan Islam kedalam kancah kehidupan ini. Wallâhu
a‘lam bi ash-shawâb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar