Sabtu, 16 April 2011

Buramnya Wajah Pendidikan Indonesia

       Potret buram dunia pendidikan Indonesia saat ini, setidaknya semakin menambah suram masa depan generasi kita. Salah satunya adalah mahalnya biaya pendidikan yang setiap tahunnya terus meningkat, khususnya perguruan tinggi. Persoalan ini memang persoalan klasik yang selalu hadir dari tahun ke tahun.
        Mahalnya biaya pendidikan ini bukan tanpa sebab, ada kebijakan yang mengkondisikan pendidikan kita menjadi mahal. Hal ini dimulai ketika Indonesia ikut dalam arus liberalisasi pendidikan melalui GATS (General Egreement on Trade Service) yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas perdagangan. Selanjutnya tahun 2000 mencuat isu BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang kemudian berubah BHP (Badan Hukum Pendidikan), walaupun pada akhirnya UU BHP ini dicabut oleh pemerintah.
       Tapi arus liberalisasi ini tidak berhenti. Kini istilah BLU (Badan Layanan Umum), Perguruan Tinggi (PT) dituntut untukberbisnis jika ingin mengembangkan dirinya. Selain itu sebelumnya, pada tahun 2007 dikeluarkan peraturan presiden No 77 yang menyatakan sector pendidikan sebagai bidang usaha yang bisa dimasuki investor asing dengan menyertakan modal maksimum 48%. Dengan logika “dagang” ini tentu tidak mengherankan jika pendidikan kita menjadi mahal, karena orientasinya adalah mencari untung.
     Itu dari segi biaya pendidikan, lalu bagaimana dengan kualitas pendidikan kita? Kualitas pendidikan Indonesia saat ini sangat menyedihkan. Menurut laporan United Nation Development Program (UNDP), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2007 menempatkan Indonesia berada pada urutan ke 108 dari 177 negara. Lalu bagaimana dengan para lulusannya? Menurut data Badan Pusat Statistik, angka pengangguran lulusan Universitas di Indonesia telah mencapai sekitar 385.000 orang pada tahun 2005. (kompas (22/9/2006)). Bahkan dari data yang terbaru pada tahun 2007 meningkat menjadi 739.206 orang.
      Potret buram diatas menggambarkan kondisi pendidikan kita yang menyedihkan. Kondisi diatas tidak bisa dilepaskan dari cengkeraman ideology kapitalisme. Pengadopsian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Dalam system kapitalis, peran Negara memang diminimalisasi, bahkan ditiadakan, Negara hanya sebagai regulator (pengatur atau pengawas), sementara peran swasta pun dioptimalkan.  Akibatnya, sekolah dan kampus harus jungkir balik mencari dana. Jalan pintas yang diambil adalah dengan menaikkan biaya pendidikan, yang menjadi korban dalam hal ini tentu adalah orang-orang miskin. Tingginya biaya inipun setidaknya akan mempengaruhi kualitas pendidikan yang akan diberikan. Semakin tinggi biayanya, kualitasnya pun semakin terjamin. Sementara yang murah jangan ditanya kualitasnya tentu apa adanya.
      Berbeda halnya dengan Islam, pendidikan dalam Islam begitu diperhatikan. Bahkan Islam mewajibkan Negara untuk menyediakan pendidikan bebas biaya kepada warganya, baik muslim maupun non-muslim. Sejarah Islam telah mencatat bagaimana kebijakan-kebijakan para khalifah dalam menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarana.
     Dengan fasilitas yang lengkap, serta keunggulan sistemnya,pendidikan Islam mampu mencetak para ilmuwan yang ternama. Bahkan karya-karyanya menjadi rujukan dalam dunia pendidikan sampai saat ini. Diantaranya , Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Al-Farazi dalam bidang Astronomi, Al-Farabi dalam bidang Geografi, Ibnu Hisyam dalam bidang Sejarah, serta ilmuwan lainnya yangtelah lahir dari pendidikan Islam.
      Dari uraian diatas, ada beberapa langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagus bahkan berstandar dunia, diantaranya:
  1. Bebas dari cengkeraman strategi pendidikan kapitalisme
  2. Falsafah dan tradisi keilmuan terpancar dari ideologi Islam
  3. Industri-industri serta sumber daya ekonomi yang strategis dikuasai oleh Negara dan tidak memberi peluang asing untuk menguasainya, sehingga alaokasi dana untuk pengembangan pendidikan akan mencukupi bahkan melimpah.
    Demikianlah pengaturan Islam dalam mengatur pendidikan, namun semua ini bisa terwujud ketika ada sebuah negara yang memang menerapkan Islam secara kaafah. Negara itu tidak lain adalah Khilafah Islamiyyah ala minhaj nubuwwah, dan tugas kita sekarang adalah berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam di dunia melalui bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah. Karena dengan Khilafah kehidupan akan sejahtera, baik pendidikan atau dalam bidang yang lain . Wallahu a'lam bishshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar